Dolar Rp17.500, Menkeu Purbaya Sebut APBN 2026 Masih Aman Terkendali

Selasa, 12 Mei 2026 | 15:38:15 WIB
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

JAKARTA- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tekanan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menyentuh level Rp17.500/US$ belum berdampak signifikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk pada beban utang negara.

Purbaya menjelaskan bahwa saat penyusunan APBN 2026 tahun lalu, pemerintah sudah memasukkan asumsi kurs hingga ke level Rp17.500/US$.

Dengan demikian, tekanan yang terjadi saat ini sebenarnya sudah diantisipasi dalam postur fiskal pemerintah tahun ini. Walaupun secara resmi asumsi makro dalam UU APBN 2026 dipatok pada angka Rp16.500/US$, kondisi riil saat ini diklaim sudah masuk dalam hitungan internal.

"Jadi saat waktu kami hitung itu, kami asumsinya sudah di atas asumsi APBN rupiahnya. Jadi enggak saya umumin, tapi di atas itu, enggak jauh sama sekarang. Jadi APBN nya masih relatif aman," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Meskipun demikian, Purbaya memastikan pemerintah akan terlibat aktif dalam membantu Bank Indonesia (BI) mengelola tekanan dolar AS terhadap rupiah.

Ia mengklaim posisi kas pemerintah saat ini sangat mencukupi untuk membantu BI melakukan intervensi, khususnya di pasar obligasi atau bond.

"Tapi kami akan kendalikan nilai, kami akan coba membantu nilai tukar, kami membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa. Kami masih banyak uang anggur, kami intervention bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi," ucap Purbaya.

Purbaya menambahkan bahwa pengendalian ini bertujuan agar investor asing tidak keluar dari pasar domestik akibat capital loss saat yield naik terlalu tinggi.

"Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar. Jadi kami kendalikan itu supaya asing yang enggak keluar, atau masuk malah kalau yield-nya membaik, sehingga rupiah akan menguat. Kami akan masuk mulai besok," papar Purbaya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah memulai perdagangan pagi ini dengan pelemahan terdalam sepanjang sejarah hingga mencapai Rp17.500/US$. Data Refinitiv mencatat pelemahan terjadi pada pukul 09.15 WIB setelah sebelumnya dibuka merosot 0,43% ke level Rp17.480/US$, sementara DXY terpantau menguat ke posisi 98,115.

Terkini