Nilai Tukar Rupiah Rentan Ditutup Melemah pada Kisaran Rp17.600

Rabu, 20 Mei 2026 | 15:30:08 WIB
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: (NET),

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini diproyeksikan bakal fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Mata uang tanah air diestimasi akan bergerak pada rentang Rp17.600 sampai Rp17.750 per dolar AS.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,22 persen ke posisi Rp17.700 per dolar AS.

Tren koreksi ini selaras dengan kondisi mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga loyo di hadapan dolar AS.

Mata uang yen Jepang tercatat melemah 0,22 persen, yuan China turun 0,05 persen, dan dolar Singapura susut 0,22 persen.

Berikutnya, won Korea mengalami penurunan 1,24 persen, dolar Hong Kong terdepresiasi 0,03 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,33 persen.

Kondisi lesu juga menimpa rupee India sebesar 0,10 persen, ringgit Malaysia 0,03 persen, peso Filipina 0,20 persen, serta baht Thailand yang turun 0,31 persen.

Meskipun tensi geopolitik dunia dikabarkan kian kondusif, tekanan dari dalam negeri dirasa masih memberatkan pergerakan mata uang garuda.

Bursa saham lokal saat ini tengah mengalami tekanan menyusul adanya aksi jual saham oleh para pemodal. Situasi ini membuat peluang apresiasi bagi mata uang rupiah menjadi sangat sempit.

Perhatian para pelaku pasar saat ini sedang mengarah pada rilis hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan berlangsung esok hari.

Bank sentral diprediksi bakal menaikkan tingkat suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin.

Opsi kenaikan suku bunga ini dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meredam gejolak yang terjadi di pasar keuangan.

Bukan cuma menunggu keputusan suku bunga, para penanam modal juga menanti rilis pernyataan resmi dari Bank Indonesia.

Pernyataan tersebut dinilai sangat dinantikan agar bisa memulihkan kepercayaan pasar atas pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Kebijakan Bank Indonesia yang mengarah pada pengetatan atau hawkish dirasa mampu menjadi pendorong positif bagi penguatan rupiah untuk jangka pendek.

Pada sisi lain, Menteri Keuangan mengungkapkan jika tekanan aksi jual pada pasar Surat Berharga Negara saat ini tergolong rendah dan masih dalam level aman.

Kementerian Keuangan memastikan telah menyiapkan dana sekurangnya Rp2 triliun per hari guna merealisasikan aksi pembelian kembali atau buyback SBN pada pasar sekunder.

Walau begitu, penyerapan dana dari target yang sudah dicanangkan tersebut nyatanya masih berada jauh di bawah pagu anggaran.

"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, tetapi hanya dapat Rp600 miliar. Artinya, yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kami memastikan harga bond [obligasi] tetap terkendali itu," ujarnya.

Langkah intervensi pada pasar obligasi domestik ini terpaksa ditempuh karena masih mengalirnya arus modal asing yang keluar atau capital outflow dari instrumen SBN.

Berdasarkan data yang terkumpul sejak awal tahun sampai 24 April 2026, akumulasi modal asing yang keluar dari pasar SBN sudah menembus angka Rp20 triliun.

Terkini