JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada sesi perdagangan hari ini diperkirakan akan berjalan fluktuatif, dengan kecenderungan ditutup melemah. Mata uang Indonesia diproyeksikan bergerak dalam rentang antara Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan yang lalu, rupiah sudah mengalami penurunan sebesar 0,22 persen dan berada di posisi Rp17.700 per dolar AS.
Penurunan ini berjalan seiring dengan merosotnya mayoritas mata uang di wilayah Asia terhadap dolar AS.
Beberapa mata uang di Asia yang terpantau ikut melemah terhadap dolar AS antara lain: Yen Jepang: turun 0,22 persen
Yuan China: turun 0,05 persen
Dolar Singapura: turun 0,22 persen
Won Korea: anjlok 1,24 persen
Dolar Hong Kong: turun 0,03 persen
Dolar Taiwan: melemah 0,33 persen
Rupee India: berkurang 0,10 persen
Ringgit Malaysia: susut 0,03 persen
Peso Filipina: melemah 0,20 persen
Baht Thailand: turun 0,31 persen
Walaupun tensi geopolitik global dikabarkan sudah mulai mereda, pergerakan mata uang Garuda diramal masih dibayangi oleh sentimen negatif dari dalam negeri.
Pasar saham domestik terpantau masih tertekan oleh aksi jual investor, sehingga ruang penguatan bagi rupiah menjadi sangat terbatas.
Perhatian utama para pelaku pasar saat ini sedang tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan dirilis esok hari.
Bank sentral diprediksi bakal mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin demi menjaga stabilitas nilai tukar serta menahan tekanan di pasar keuangan.
Investor pun menanti pernyataan resmi dari bank sentral yang diharapkan mampu memulihkan keyakinan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Langkah bank sentral yang dinilai lebih tegas diyakini bisa menjadi katalis positif bagi mata uang rupiah dalam jangka pendek.
Sementara itu, tekanan jual di pasar Surat Berharga Negara atau SBN disebut masih berskala kecil serta berada dalam kondisi yang terkontrol.
Upaya antisipasi sebenarnya telah disiapkan melalui penyediaan dana minimal Rp2 triliun setiap hari guna mengeksekusi pembelian kembali SBN di pasar sekunder.
Meski begitu, realisasi dari penyerapan dana intervensi tersebut rupanya masih berada jauh di bawah target yang sudah ditetapkan.
Kemarin saja sudah ditargetkan untuk menyerap Rp2 triliun, tetapi hanya mendapatkan Rp600 miliar.
Artinya, pihak yang menjual obligasi sebenarnya juga sedikit, jadi kami memastikan harga bond atau obligasi tersebut tetap berada dalam kondisi terkendali.
Tindakan intervensi di pasar obligasi ini berkaitan erat dengan fenomena arus modal asing yang keluar dari pasar SBN.
Berdasarkan data yang ada, sejak awal tahun sampai 24 April 2026, aliran dana investor asing yang keluar dari pasar SBN sudah menembus angka Rp20 triliun.