Prospek Rupiah Semester II 2026 Menghadapi Sorotan Kebijakan Fiskal

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:09:43 WIB
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: jangkauindonesia.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau kembali melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang garuda di pasar spot merosot 0,71 persen secara harian ke posisi Rp 17.967 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun atau secara year to date (ytd), rupiah sudah melemah sebesar 7,42 persen dari posisi awal di level Rp 16.725 per dolar AS.

Kondisi moneter saat ini dinilai sudah tidak memadai untuk mendongkrak kembali keperkasaan rupiah.

Hal tersebut terlihat dari langkah Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga acuan, namun mata uang domestik tetap tidak kunjung menguat dan justru terus berada dalam tren melemah.

“Yang bisa digunakan adalah instrumen fiskal. Perkuatlah fiskal kami dengan menunda program – program yang menghabiskan APBN dengan sangat dahsyat. Misalnya program makan bergizi gratis (MBG), itu bisa ditunda,” ujar Ferry saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).

Potensi defisit pada sektor fiskal ini diperkirakan semakin nyata mengingat posisi Indonesia sebagai negara importir minyak mentah.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia saat ini masih bertahan di level tinggi, yakni di atas US$ 90 per barel. Apalagi, pada kuartal pertama tahun ini defisit fiskal nasional tercatat sudah mencapai 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Kalau sampai current account kami defisit, APBN kami defisit, ini gawat, saya wanti – wanti ke pemerintah jangan sampai terjadi,” kata Ferry.

Lonjakan harga minyak mentah global ini juga dinilai membawa dampak domino terhadap kenaikan harga di berbagai sektor lain.

Dampak tersebut menyasar harga bahan baku industri, biaya transportasi dan logistik, hingga menyulut kenaikan harga pangan akibat nilai tukar yang kian terpuruk.

Selain itu, pernyataan dari lembaga pemeringkat S&P turut menjadi perhatian karena adanya potensi penurunan rating Indonesia akibat kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang dinilai dapat memicu distorsi pasar.

“Kebijakan – kebijakan pemerintah yang membuat investor asing tidak percaya,” jelas Ferry.

Di sisi lain, kebijakan kenaikan Bank Indonesia (BI) Rate sebelumnya diakui memang mampu menahan mata uang lokal agar tidak merosot lebih dalam.

Kendati demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan arah pergerakan rupiah secara konsisten jangka panjang karena kenaikan bunga hanya meningkatkan daya tarik aset domestik secara terbatas.

“Sementara sumber tekanan rupiah berasal dari banyak jalur: impor energi, arus keluar modal, kebutuhan dolar musiman, tekanan fiskal, dan keraguan terhadap arah kebijakan,” ujar Josua.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan sejumlah bank sentral di kawasan Asia yang mulai mengetatkan kebijakan moneter mereka ternyata masih menempatkan mata uang negara-negara tersebut di dekat level terlemahnya.

Langkah menaikkan suku bunga yang fokus untuk meredam inflasi barang impor umumnya hanya memberikan dampak penguatan yang semu terhadap nilai tukar kurs.

Kondisi ini menunjukkan bahwa selain suku bunga, rupiah memerlukan sokongan pasokan devisa serta tingkat kepercayaan pasar yang lebih kokoh pada kebijakan pemerintah.

Pergerakan rupiah pada paruh kedua tahun ini diprediksi akan berjalan lebih stabil jika dibandingkan dengan capaian pada Mei. Meski demikian, stabilitas tersebut tergolong rapuh dan pemulihannya sangat bergantung pada pemenuhan tiga faktor utama.

Faktor pertama adalah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah agar harga minyak mentah dunia menurun sehingga permintaan dolar AS untuk keperluan impor energi bisa berkurang.

Faktor kedua, bank sentral harus konsisten menjaga daya tarik aset keuangan domestik melalui instrumen suku bunga, SRBI, operasi pasar valuta asing, serta langkah stabilisasi SBN tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan.

Faktor ketiga, pemerintah diwajibkan untuk memperketat disiplin pengelolaan fiskal serta memastikan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) berjalan efektif mengalirkan pasokan valas, bukan sekadar menjadi aturan administratif bagi pelaku ekspor.

“Jika ketiga syarat ini terpenuhi, rupiah bisa mulai bergerak lebih stabil pada semester II, tetapi jika salah satunya gagal, tekanan ke Rp18.000 tetap terbuka,” terang Josua.

Sentimen utama yang akan mengarahkan pergerakan rupiah ke depan meliputi fluktuasi harga minyak, dinamika hubungan AS-Iran, arah kebijakan suku bunga dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, aliran modal asing di pasar SBN dan saham, kredibilitas sektor fiskal, implementasi DHE SDA, serta kondisi neraca transaksi berjalan.

Dinamika di pasar saham juga perlu diwaspadai karena isu MSCI dan aksi jual bersih oleh investor asing berpotensi memicu lonjakan konversi mata uang rupiah ke dolar AS.

Faktor musiman lain yang berpotensi membebani pergerakan mata uang meliputi tingginya permintaan dolar AS untuk keperluan pembayaran dividen perusahaan, pelunasan utang luar negeri, serta pembiayaan impor energi pada periode tertentu.

“Jadi, rupiah semester II tidak hanya ditentukan oleh BI, tetapi oleh kombinasi antara pasar global, APBN, ekspor, impor, dan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan,” ujar Josua.

Arah pergerakan nilai tukar ke depan akan dipengaruhi oleh lima faktor fundamental utama. 

Faktor pertama berkaitan dengan kepastian arah suku bunga global serta keperkasaan dolar AS yang menentukan arus modal ke negara berkembang.

Apabila imbal hasil dari aset berdenominasi dolar AS tetap tinggi, pelaku pasar akan meminta kompensasi atau premi yang lebih besar untuk memegang aset rupiah.

Faktor kedua terletak pada tingkat kredibilitas dari kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia.

Langkah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen menunjukkan respons untuk menjaga stabilitas, namun pasar masih mencermati kejelasan komunikasi serta efektivitas dari intervensi yang dilakukan.

Faktor ketiga adalah perlunya penguatan kinerja sektor eksternal karena laju impor tercatat tumbuh lebih pesat daripada ekspor, sementara surplus pada neraca perdagangan menunjukkan tren menyempit dibandingkan capaian tahun lalu.

Faktor keempat berhubungan dengan persepsi terhadap risiko sovereign yang ikut memberikan tekanan pada pergerakan rupiah.

Angka CDS 5 tahun yang berada di kisaran 90 bps dan tingkat yield obligasi tenor 10 tahun di level 6,7 persen mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih menuntut kompensasi risiko yang tergolong tinggi.

Faktor kelima yang tidak kalah penting adalah kualitas dari arah kebijakan fiskal pemerintah dalam membangun kepercayaan para investor.

“Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ucap Syafruddin.

Nilai tukar rupiah pada semester II-2026 diproyeksikan akan bergerak pada rentang dasar antara Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Apabila skenario positif terjadi, seperti terealisasinya gencatan senjata antara AS dan Iran yang diikuti penurunan harga minyak ke level rendah, pelemahan dolar AS, serta kembalinya aliran modal asing, rupiah berpeluang menguat secara bertahap menuju kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.300 per dolar AS pada akhir tahun.

Prediksi lain menyebutkan mata uang domestik pada paruh kedua tahun ini berpotensi bergerak pada rentang Rp 17.900 sampai Rp 18.400 per dolar AS, dengan nilai tengah proyeksi berada di sekitar Rp 18.150 hingga Rp 18.250 per dolar AS.

Sementara itu, proyeksi yang lebih konservatif memperkirakan rupiah dapat menyentuh level Rp 22.000 per dolar AS pada Juli 2026 dan memiliki risiko melemah lebih dalam hingga mencapai Rp 25.000 per dolar AS pada penutupan tahun 2026.

Terkini