Dampak Rupiah Melemah dan BI Rate Naik Terhadap Kredit Bank

Kamis, 04 Juni 2026 | 14:33:20 WIB
Ilustrasi Rupiah, Sumber: beritasatu.

JAKARTA - Penyaluran dana pinjaman dari perbankan pada paruh kedua tahun 2026 diperkirakan memiliki peluang untuk tumbuh lebih cepat di sektor industri manufaktur yang berkaitan dengan perdagangan internasional.

Penurunan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dapat memberikan dampak yang bervariasi bagi setiap sektor usaha.

Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, permintaan pembiayaan pada sektor yang berorientasi ekspor justru berpotensi mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Hal ini terjadi karena permintaan dari pasar global cenderung meningkat seiring dengan harga komoditas mentah domestik yang dinilai menjadi lebih terjangkau.

"Begitu mata uang kami terdepresiasi, ekspor akan lebih banyak permintaannya karena harganya otomatis jadi lebih murah bagi di sana. Tapi kebalikannya kalau kami impor, harga yang kami beli jadi lebih mahal," jelas Dian.

Oleh karena itu, perkembangan penyaluran kredit perbankan pada paruh kedua tahun ini akan sangat bergantung pada seberapa besar pengaruh fluktuasi rupiah terhadap masing-masing bidang usaha.

Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 tidak akan langsung membuat perbankan menaikkan suku bunga kredit mereka dalam waktu dekat.

Setiap manajemen bank dipastikan akan melakukan perhitungan komersial secara mendalam sebelum menaikkan margin bunga pinjaman, salah satunya dengan memperhatikan kondisi likuiditas dan biaya modal.

"Akan selalu ada jeda waktu untuk perbankan menyesuaikan. Karena bank itu bisnis, dia akan mengkalkulasi tingkat suku bunga bisa dinaikkan," kata Dian.

Terkini