Anggaran Program Prioritas Prabowo Capai Rp 1.896 Triliun pada 2027

Rabu, 10 Juni 2026 | 11:01:25 WIB
Presiden RI, Prabowo Subianto.

JAKARTA - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan dana besar mencapai Rp 1.896 triliun demi mendanai sejumlah program prioritas nasional pada 2027. Anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai 60 program kerja yang terbagi ke dalam delapan klaster utama.

Program-program tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari penyediaan makan bergizi gratis (MBG), pembangunan 3 juta unit rumah, hingga pengerjaan proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa kebutuhan dana untuk Program Kebutuhan Pendanaan Prioritas Nasional (PKPN) ini sudah dimasukkan ke dalam penyusunan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.

"Belanja direncanakan berada pada kisaran 13,62 persen hingga 14,80 persen terhadap PDB. Besaran postur makro fiskal 2027 telah memperhitungkan kebutuhan pendanaan berbagai PKPN yang diperkirakan mencapai Rp 1.720 triliun hingga Rp 1.896 triliun," ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).

Pihak pemerintah menargetkan sumber pendanaan proyek tersebut berasal dari belanja pemerintah pusat, optimalisasi transfer ke daerah dan dana desa, serta bermacam skema pembiayaan anggaran lainnya.

Purbaya menegaskan bahwa langkah efisiensi serta refocusing anggaran akan tetap diterapkan agar pengeluaran negara menjadi lebih produktif sekaligus memberikan efek yang nyata bagi masyarakat luas.

"Pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kualitas belanja negara melalui upaya efisiensi dan refocusing agar alokasi anggaran semakin produktif, tepat sasaran, dan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian dan masyarakat," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menjabarkan bahwa 60 program kerja tersebut dikelompokkan ke dalam delapan klaster besar yang terintegrasi satu sama lain.

"Intinya delapan klaster ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Pangan terhubung dengan gizi, gizi terhubung dengan pendidikan, pendidikan terhubung dengan produktivitas, produktivitas terhubung dengan industri, industri menciptakan lapangan kerja, lapangan kerja menurunkan jumlah orang miskin," ujar Rachmat.

Klaster pertama berfokus pada kedaulatan pangan, yang mencakup:

Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih

Pengembangan kawasan perkebunan strategis

Peningkatan produksi daging, susu, dan telur

Sementara pada sektor energi dan air, pemerintah bakal menggulirkan:

Program biodiesel B50

Bioetanol E20

Pembangunan PLTS 100 GW

Konversi 6 juta motor listrik

Elektrifikasi 10.000 desa

Eksplorasi 10 blok migas baru

Sektor pendidikan memperoleh porsi besar melalui beberapa program:

Program MBG untuk anak sekolah

Pembangunan 500 Sekolah Rakyat

Pembangunan 20 Sekolah Garuda baru

Digitalisasi pendidikan dengan 2 juta papan interaktif digital

Pendirian 10 universitas berbasis STEMM

Di bidang kesehatan, pemerintah akan melanjutkan:

Program MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita

Peningkatan kapasitas 66 rumah sakit

Perluasan pemeriksaan kesehatan gratis

Percepatan penanggulangan tuberkulosis

Pada sektor hilirisasi dan industrialisasi, rencana kerja meliputi:

Pengembangan 18 proyek hilirisasi strategis

Produksi mobil nasional dan motor nasional

Pengembangan industri semikonduktor

Pembangunan ekosistem kedirgantaraan

Untuk klaster infrastruktur, program yang disiapkan adalah:

Pembangunan Giant Sea Wall

Program pembangunan 3 juta rumah

Pengembangan jaringan kereta api nasional

Rehabilitasi kawasan terdampak bencana

Dalam rangka memperkuat ekonomi kerakyatan, pemerintah menargetkan:

Pembangunan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

Percepatan pembangunan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)

Adapun program pengentasan kemiskinan akan diarahkan melalui:

Program Kesejahteraan Rakyat (Pro-Kesra) berupa bansos terintegrasi

Dukungan bagi 10 juta penduduk untuk berusaha dan bekerja

Pemerintah optimistis berbagai program ini dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi, membuka lebih banyak lapangan kerja, serta menyokong target pembangunan nasional di masa depan.

Terkini