JAKARTA - Sebuah lembaga sekuritas memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan ke depan lewat kenaikan BI Rate hingga ke level 6%.
Kenaikan suku bunga yang lebih agresif dinilai perlu untuk menarik dana asing masuk kembali ke pasar domestik.
Langkah ini diambil mengingat masih adanya berbagai tekanan terhadap aset Indonesia dan rupiah. Tekanan tersebut mulai dari ketidakpastian regulasi, kekhawatiran fiskal, tingginya harga minyak dunia, hingga surplus perdagangan yang terus menyempit.
Dengan cadangan devisa yang sudah berkurang sekitar US$11 miliar, bank sentral dinilai tidak ingin hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing untuk mempertahankan rupiah.
Di sisi lain, inflasi diperkirakan akan sementara waktu melampaui target sebesar 1,5%-3,5% dalam beberapa bulan mendatang.
"Oleh karena itu, analis kini memperkirakan masih akan ada tambahan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps hingga akhir 2026, yang akan membawa BI Rate ke level 6%. Level tersebut hanya sedikit di bawah puncak suku bunga pascapandemi yang mencapai 6,25%," ujarnya dalam riset tertulis yang dikutip, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, risiko kenaikan suku bunga yang lebih agresif masih terbuka, terutama jika Selat Hormuz belum kembali dibuka hingga akhir Juni dan harga minyak dunia terus meningkat.
"Untuk rapat BI pekan depan, skenario dasar yang diperkirakan pasar adalah kenaikan suku bunga sebesar 25 bps. Namun, jika nilai tukar dolar AS menembus Rp18.200 sebelum 18 Juni, BI berpotensi menaikkan suku bunga lebih besar, yakni hingga 50 bps," terangnya.
Sebelumnya, pasar memperkirakan pemerintah akan keberatan terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut karena pertumbuhan ekonomi sedang menghadapi berbagai tekanan.
Namun, keputusan menggelar rapat darurat dan menaikkan suku bunga hanya sepekan sebelum rapat reguler menunjukkan besarnya urgensi untuk menahan pelemahan rupiah.
Pemerintah dan Bank Indonesia juga menunjukkan sikap yang sejalan dalam menjaga stabilitas rupiah.
Dalam konferensi pers bersama pada 6 Juni lalu, Gubernur BI menegaskan kedua institusi akan memperkuat upaya menjaga stabilitas rupiah dan menarik kembali aliran modal asing ke Indonesia.
Sebagai informasi, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) di luar jadwal rapat kebijakan moneternya yang seharusnya berlangsung pada 17-18 Juni.
Langkah ini dilakukan setelah sebelumnya juga telah menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada bulan lalu, sehingga BI Rate kini berada di level 5,50%.
Selain itu, dilakukan pula kenaikan suku bunga fasilitas simpanan (Deposit Facility) dan fasilitas pinjaman (Lending Facility) masing-masing sebesar 25 bps menjadi:
Deposit Facility sebesar 4,25%
Lending Facility sebesar 6,25%
Kebijakan pengetatan moneter ini dilakukan untuk mendukung stabilitas rupiah yang mengalami pelemahan lebih besar dari perkiraan.
Tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh ketidakpastian global yang masih tinggi, tingginya permintaan valas di dalam negeri, serta keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan.
Sebagai respons, dilakukan peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan.
Selain itu, diberikan insentif bagi investor asing berupa penurunan biaya lindung nilai (hedging) sebesar 10%, membuka kembali lelang repo untuk menjaga likuiditas pasar, serta meningkatkan intervensi di pasar valuta asing baik melalui transaksi spot, NDF, maupun DNDF.
Sebelum pengumuman kenaikan suku bunga, rupiah telah melemah sekitar 2,4% sejak rapat pada Mei dan sekitar 8% sejak awal tahun.
Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah bahkan sempat mendekati level Rp18.200. Setelah keputusan kenaikan suku bunga diumumkan, rupiah berhasil menguat sekitar 0,6% dan ditutup di level Rp18.060 per dolar AS.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak 23 bps menjadi 7,5%, level tertinggi sejak November 2022, sebelum akhirnya turun tipis ke 7,4%.
Cadangan devisa Indonesia juga terus mengalami penurunan. Pada Mei 2026, cadangan devisa turun menjadi US144, 9miliar ,atau berkurang US1,3 miliar dibandingkan April. Ini merupakan penurunan selama lima bulan berturut-turut dan menjadi level terendah dalam JavaScript dua tahun terakhir. Sejak mencapai puncaknya pada Desember 2025, cadangan devisa telah berkurang sekitar US$11 miIiar.