Harga Emas Dunia Kian Tertekan Mendekati Level 4.000 Dolar

Kamis, 11 Juni 2026 | 09:01:25 WIB
Ilustrasi Emas Dunia, Sumber: (NET).

JAKARTA - Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam hingga mendekati level psikologis 4.000 per ons troi. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan inflasi Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketegangan konflik yang kian memanas.

Saat ini harga emas berada di level 4.044,04 per ons troi. Pada perdagangan hari sebelumnya, harga emas spot sempat merosot 4,26 persen menjadi 4.078 per ons troi. Sementara harga perak spot turut terkoreksi 2,66 persen ke level 63,61 per ons troi.

Tekanan pada emas muncul setelah data menunjukkan inflasi Amerika Serikat pada Mei naik 0,5 persen secara bulanan dan 4,2 persen secara tahunan.

Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga tercatat meningkat.

Kenaikan harga energi menjadi pendorong utama inflasi, di mana harga bensin melesat 40,5 persen. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam waktu yang lebih lama.

Kenaikan suku bunga dan menguatnya imbal hasil obligasi menjadi sentimen negatif bagi emas karena investor lebih memilih instrumen investasi berbunga. Pasar kini juga terus memantau ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Situasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia menjadi pusat perhatian.

Meskipun ketegangan geopolitik biasanya mendorong permintaan emas, kali ini fokus pasar tertuju pada dampak konflik terhadap inflasi.

Level 4.000 per ons troi kini menjadi area penentu bagi pelaku pasar. Apabila harga menembus level tersebut, emas berpotensi melanjutkan koreksi ke arah 3.883 per ons troi.

Sebaliknya, jika berhasil bertahan, emas perlu menembus level resistance untuk bangkit.

Sementara itu, harga perak masih menghadapi tekanan dengan level resistance di kisaran 65 hingga 66 per ons troi.

Pergerakan emas jangka pendek diprediksi masih sangat bergantung pada kebijakan bank sentral dan perkembangan geopolitik global.

Terkini