Harga Emas dan Perak Anjlok ke Level Terendah Akibat Inflasi Amerika

Kamis, 11 Juni 2026 | 09:01:25 WIB
Ilustrasi Emas dan Perak, Sumber: (NET).

JAKARTA - Nilai logam mulia kembali mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Rabu 10 Juni 2026. Kondisi ini terjadi seiring memudarnya harapan pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat serta eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Harga emas kini menyentuh angka mendekati 4.100 Dolar AS per ons, yang menjadi posisi terendah sejak akhir November 2025. Di saat bersamaan, perak melemah ke level 64,5 Dolar AS per ons, angka terendah sejak Desember tahun lalu.

Adapun palladium saat ini berada pada kisaran 1.250 Dolar AS per ons, mendekati titik terendah selama delapan bulan terakhir.

Tekanan pasar terhadap logam mulia muncul setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan lonjakan harga konsumen sesuai prediksi.

Inflasi tahunan di bulan Mei tercatat sebesar 4,2 persen, angka tertinggi sejak April 2023 yang didorong oleh naiknya biaya energi.

Sementara itu, inflasi inti turut meningkat ke level 2,9 persen, posisi tertinggi dalam tujuh bulan. Data tersebut mendorong pelaku pasar untuk menurunkan ekspektasi terkait pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Menyusul laporan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid pekan lalu, pasar kini memperhitungkan adanya peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember nanti.

Selain itu, konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pasca kedua negara melakukan serangan baru. Peningkatan risiko geopolitik mendorong harga minyak naik serta memperbesar kekhawatiran inflasi.

Hal ini memperkuat prospek kebijakan moneter yang lebih ketat sekaligus mengurangi minat terhadap aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.

Khusus untuk palladium, tekanan muncul akibat permintaan industri otomotif yang melemah seiring percepatan transisi ke kendaraan listrik yang mengurangi pemakaian konverter katalitik.

Meskipun demikian, penurunan harga palladium masih terbendung oleh ketatnya pasokan global. Hal ini dipicu gangguan produksi di Afrika Selatan serta ketidakpastian ekspor dari Rusia.

Terkini