JAKARTA – Penjualan rumah di pasar primer pada kuartal I 2026 mencatatkan penurunan signifikan di kala pertumbuhan harga properti residensial masih berjalan lambat.
Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, angka penjualan properti residensial di pasar primer mengalami kontraksi hingga 25,67 persen secara tahunan. Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi pada kuartal IV 2025 yang sempat tumbuh sebesar 7,83 persen. Di sisi lain, indeks harga properti residensial masih tumbuh namun melambat.
Pada kuartal I 2026, Indeks Harga Properti Residensial berada di angka 110,60 atau hanya tumbuh 0,62 persen, angka ini lebih rendah dari capaian kuartal sebelumnya sebesar 0,83 persen. Bank sentral memaparkan bahwa perlambatan tersebut dipicu oleh melandainya harga rumah tipe menengah dan besar.
Rumah tipe menengah tumbuh 0,88 persen, turun dibandingkan kuartal IV 2025 yang sebesar 1,12 persen. Untuk rumah tipe besar tumbuh 0,50 persen dari posisi sebelumnya 0,72 persen. Sementara rumah tipe kecil tercatat tumbuh 0,61 persen, lebih rendah dari angka 0,76 persen pada kuartal lalu.
Ditinjau secara spasial dari 18 kota, 10 kota menunjukkan perlambatan harga dan tiga kota mengalami penurunan IHPR tahunan. Di Banjarmasin hanya tumbuh 0,52 persen, sedangkan Surabaya mengalami kontraksi harga rumah yang kian dalam di angka minus 0,27 persen.
Merosotnya angka penjualan terutama disebabkan oleh jatuhnya penjualan rumah tipe kecil yang terkontraksi 45,59 persen secara tahunan. Kondisi ini berbalik dari pertumbuhan pesat 17,32 persen di kuartal sebelumnya. Penjualan rumah tipe besar pun masih terkontraksi sebesar 8,03 persen.
Bank sentral mencatat, faktor utama yang menghambat pengembangan dan penjualan properti residensial adalah kenaikan harga bahan bangunan dengan porsi 20,97 persen. Selain itu, terdapat kendala perizinan, birokrasi, suku bunga KPR, hingga besaran uang muka yang tinggi.
Dalam hal pembiayaan, modal utama pembangunan properti masih didominasi dana internal pengembang mencapai 80,66 persen. Dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama dengan pangsa 69,87 persen, diikuti tunai bertahap 19,61 persen, dan tunai penuh 10,53 persen.