IHSG Parkir di 6.847 Saat Pemerintah Evaluasi Royalti Pertambangan

IHSG Parkir di 6.847 Saat Pemerintah Evaluasi Royalti Pertambangan
Ilustrasi IHSG

JAKARTA - Pemerintah mengambil langkah untuk menunda rencana kenaikan royalti pada sektor pertambangan mineral. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Senin (11/5) menjelaskan bahwa formula dalam perhitungan royalti akan mengalami perubahan, dengan menggunakan pendekatan yang dianggap lebih “win–win” bagi negara maupun pelaku usaha. Selain itu, pemerintah turut membuka ruang masukan dari para pelaku sektor pertambangan sebelum kebijakan final tersebut diputuskan.

Pernyataan ini dirilis hanya berselang beberapa hari setelah pihak Kementerian ESDM mengumumkan rencana peningkatan royalti untuk berbagai komoditas mineral, mulai dari tembaga, timah, nikel, emas, hingga perak pada Jumat (8/5).

Sentimen mengenai penundaan ini sempat memberikan dampak positif dalam meredakan tekanan di pasar saham domestik. IHSG tercatat masih ditutup melemah sebesar 0,92 persen pada perdagangan hari ini, namun angka tersebut berhasil memangkas koreksi setelah sebelumnya sempat merosot tajam hingga 1,76 persen ke posisi 6.847 — yang merupakan titik terendah sejak awal tahun 2026.

Pergerakan indeks hingga saat ini masih didominasi oleh tekanan jual. Dari keseluruhan 912 saham yang ditransaksikan, hanya terdapat 251 saham yang menguat. Pelemahan IHSG secara signifikan dibebani oleh pergerakan saham BMRI yang memberikan tekanan terbesar seiring dengan momen ex-date dividen, yang kemudian disusul oleh saham DSSA dan BREN.

Di samping persoalan royalti mineral, pasar juga tengah dibayangi oleh sederet sentimen negatif lainnya. Pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan kekhawatiran atas risiko fiskal APBN menjadi fokus perhatian para investor, khususnya karena harga minyak dunia yang masih bertahan di atas US$100 per barel akibat alotnya proses negosiasi konflik AS–Iran.

Selain faktor makroekonomi, para pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see mengingat durasi pekan perdagangan yang lebih singkat serta sembari menanti hasil quarterly rebalancing MSCI yang dijadwalkan meluncur pada 12 Mei 2026.

Pasar sendiri telah memperkirakan bahwa BREN dan DSSA bakal dikeluarkan dari indeks MSCI setelah masuk dalam kategori saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi (high shareholding concentration). Sejumlah emiten lainnya juga dianggap berisiko terkena deletion atau mengalami downgrade ke small cap index seiring adanya perubahan metode perhitungan free float MSCI yang kini mengikutsertakan data tambahan, termasuk kepemilikan sebesar 1 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index