JAKARTA - Realisasi pengumpulan pajak di Indonesia pada periode Januari hingga April 2026 menorehkan pertumbuhan positif sebesar 16,1 persen secara year on year dengan total perolehan menyentuh Rp646,3 triliun.
Jika melihat target yang dicanangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, perolehan dana negara ini baru menyentuh angka 27,4 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpandangan bahwa pencapaian positif tersebut berjalan selaras dengan mengeliatnya roda ekonomi nasional serta maksimalnya implementasi sistem Coretax.
Mayoritas jenis pajak utama memperlihatkan kinerja yang solid, yang menjadi cerminan dari terjaganya pendapatan sekaligus tingkat konsumsi warga.
Secara terperinci, akumulasi setoran pajak sepanjang Januari sampai April tersebut didapatkan dari sejumlah instrumen berikut:
Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Deposit PPh Badan sebesar Rp135,2 triliun
PPh orang pribadi dan PPh Pasal 21 sebesar Rp101,1 triliun
PPh Final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 sebesar Rp109,1 triliun
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM) sebesar Rp221,2 triliun
Pajak lainnya sebesar Rp79,7 triliun.
Apabila ditinjau dari rumpun lapangan usaha, pasokan pajak kali ini dikomandoi oleh sektor perdagangan yang menggelontorkan andil paling dominan hingga 24,9 persen dari total penerimaan.
Berbagai bidang usaha besar lain yang turut menyokong meliputi industri pengolahan dengan porsi 22,5 persen, diikuti pertambangan di angka 8,8 persen, serta sektor konstruksi dan real estat yang menyumbang 3,7 persen.
Berikut merupakan rincian perolehan setoran pajak dari empat sektor usaha utama tersebut:
Industri pengolahan: Rp145,3 triliun
Sektor perdagangan: Rp161 triliun
Sektor konstruksi dan real estat: Rp24,2 triliun
Sektor pertambangan: Rp56,7 triliun
Terdapat beberapa faktor krusial yang mendasari akselerasi performa positif pada setoran pajak sektoral tersebut:
Setoran dari lini industri pengolahan terangkat berkat pergerakan positif pada subsektor industri kelapa sawit.
Sementara untuk sektor perdagangan mencatatkan kenaikan 16,2 persen yang dipicu oleh aktivitas perdagangan besar BBM serta lini perdagangan online, sejalan dengan meningkatnya tren belanja digital.
Pada bidang konstruksi dan real estat terpantau meningkat sebesar 1,3 persen yang disokong oleh subsektor real estat yang dimiliki sendiri.
Lalu pada sektor pertambangan berhasil mencetak pertumbuhan sebesar 5,4 persen yang didorong oleh performa pada bidang pertambangan minyak dan gas bumi (migas).
Purbaya menegaskan bahwa data dari realisasi penerimaan ini sekaligus mematahkan anggapan yang menyebut keadaan ekonomi domestik saat ini tengah lesu dan daya beli warga sedang turun.