JAKARTA - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan optimistis defisit APBN 2026 terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terjaga di bawah 3 persen. Hal ini disampaikan usai pemerintah memangkas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dari semula Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun.
Kementerian Keuangan diyakini tetap mampu mengawal belanja fiskal di tengah pemakaian anggaran besar. Terlebih dengan adanya tambahan alokasi dari penghematan anggaran MBG tersebut.
"Kita musti tetap di bawah 3%, tidak akan lebih dari 3%," tegas Luhut di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Senin (25/5/2026).
"Kita jangan underestimate terhadap kemampuan kita untuk mengelola itu. Presiden juga sudah mengatakan bahwa ada yang belum siap di MBG, kami alihkan ke tempat lain dulu," ungkap dia.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara juga menekankan bahwa belanja negara masih berada di dalam disiplin fiskal.
Defisit akan terus dijaga tetap di bawah 3 persen sekaligus memastikan ekonomi terus tumbuh.
Indonesia menjadi negara yang defisitnya di bawah 3 persen, yaitu 2,9 persen tahun lalu dan 2,68 persen yang direncanakan tahun ini.
Namun ekonomi bisa tumbuh tahun lalu 5,11 persen dan awal tahun ini 5,61 persen.
Posisi Indonesia saat ini dinilai masih lebih baik dibanding beberapa negara lain berkat pengelolaan APBN yang adaptif serta fleksibel.
Beberapa negara ditemui memiliki defisit yang lebih tinggi, namun pertumbuhan ekonominya justru lebih rendah.
Sehingga Indonesia menjadi pilihan yang baik dengan pengelolaan APBN yang adaptif tersebut.
Kementerian Keuangan terus berupaya agar belanja besar negara untuk sejumlah program prioritas Presiden bisa berdampak langsung bagi kemakmuran masyarakat.
Seluruh rencana besar Indonesia meliputi: makan bergizi gratis kooperasi desa sekolah rakyat sekolah unggulan perbaikan kesehatan puskesmas perbaikan rumah sakit
Semua program tersebut dianggarkan di dalam APBN karena hal itu yang nanti akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Target pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo Subianto sebesar 8 persen juga optimistis bisa tercapai.
Hal ini didukung dengan manajemen kebijakan mikroekonomi baru yang diklaim bakal membuat Indonesia tumbuh ke depan.
Melalui deregulasi dan reformasi, ekonomi diyakini akan tumbuh lebih tinggi menuju 8 persen sesuai dengan target Bapak Presiden Prabowo di masa pemerintahan masa jabatan ini.