Pengamat Menilai Skema KPR Tenor 40 Tahun Justru Bebani Pembeli Rumah

Pengamat Menilai Skema KPR Tenor 40 Tahun Justru Bebani Pembeli Rumah
Ilustrasi KPR, Sumber: cariproperti.

JAKARTA - Pemerintah memberikan imbauan kepada sektor perbankan agar bersiap dalam memperlama jangka waktu fasilitas kredit pemilikan rumah sampai 40 tahun.

Kebijakan memperpanjang masa kredit ini dinilai dapat memicu nominal cicilan tiap bulan menjadi semakin terjangkau.

Lewat penerapan strategi ini, pihak pemerintah mempunyai harapan agar minat publik untuk mempunyai tempat tinggal sendiri bisa kian bertambah.

Kendati demikian, seorang pengamat ekonomi bernama Yusuf Rendy Manilet mengidentifikasi adanya sejumlah risiko tersembunyi di balik opsi masa pinjaman properti hingga 40 tahun tersebut.

Dirinya memaparkan jika perpanjangan periode pelunasan cicilan tidak secara otomatis mempermudah warga dalam memperoleh rumah.

Mekanisme dengan durasi yang terlampau lama ini justru dipandang berisiko mendatangkan tekanan finansial baru untuk pihak peminjam.

Tekanan finansial itu terjadi lantaran total penjumlahan bunga keseluruhan yang wajib dilunasi nasabah bakal melonjak sangat tinggi.

"Dengan tenor yang sangat panjang, total bunga yang dibayar menjadi jauh lebih besar dan pembentukan ekuitas rumah berlangsung sangat lambat pada tahun-tahun awal," kata Yusuf.

Sang pengamat pun turut mengingatkan terkait batas usia produktif yang dimiliki oleh para pengambil fasilitas pembiayaan.

Durasi selama 40 tahun dipandang teramat lama, karena bila konsumen memulai kredit di umur 25 tahun, maka penyelesaian utang baru rampung pada usia 65 tahun.

Saat menginjak masa pensiun tersebut, kapasitas penghasilan individu pada umumnya bakal mengalami penyusutan.

Berbarengan dengan hal itu, masyarakat juga mesti mencukupi biaya pengobatan serta kebutuhan hidup harian yang kian mahal.

Keadaan ini memicu level ketahanan keuangan konsumen dalam melunasi sisa tagihan pada usia senja menjadi semakin rentan.

Melihat dari sisi sektor perbankan, ia menjelaskan bahwa rencana ini memerlukan dukungan instrumen likuiditas jangka panjang.

Kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa simpanan pada lembaga keuangan mayoritas masih didominasi produk jangka pendek, layaknya tabungan biasa atau deposito.

Sementara itu, alokasi untuk kredit kepemilikan hunian ini memakan masa pengembalian dana yang sangat panjang hingga puluhan tahun.

"Bank otomatis menanggung ketidakpastian suku bunga dalam periode yang sangat panjang. Selama 40 tahun, arah kebijakan moneter juga bisa berubah berkali-kali. Risiko inilah yang biasanya membuat bank memasang bunga lebih tinggi," jelasnya.

Oleh sebab itu, strategi memperpanjang durasi cicilan ini dipandang cuma menjadi solusi jangka pendek demi mengatasi persoalan hunian bagi masyarakat.

Yusuf mengimbuhkan, pilihan paling tepat untuk meningkatkan aksesibilitas pasar perumahan ialah dengan mengendalikan harga jual rumah agar senantiasa rasional.

Upaya pelengkap lainnya bisa ditempuh lewat penyaluran subsidi bunga yang tepat sasaran serta penguatan daya beli warga secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index