Rupiah Diprediksi Menguat Hari Ini di Tengah Tren Pelemahan Mata Uang Asia

Rupiah Diprediksi Menguat Hari Ini di Tengah Tren Pelemahan Mata Uang Asia
Ilustrasi Rupiah, Sumber: money.kompas.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026 diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan berakhir menguat di rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, mata uang rupiah mencatatkan penguatan sebesar 1,08 persen ke posisi Rp17.940 per dolar AS.

Peningkatan performa mata uang Garuda ini terjadi di tengah tren pelemahan yang melanda sebagian besar mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS.

Beberapa mata uang yang melemah antara lain:

Yen Jepang sebesar 0,05 persen Yuan China sebesar 0,07 persen Dolar Singapura turun 0,12 persen Won Korea Selatan turun 0,10 persen Dolar Taiwan turun 0,16 persen Baht Thailand terdepresiasi sebesar 0,04 persen

Sebaliknya, mata uang Asia lainnya berhasil menguat bersama rupiah, seperti peso Filipina naik 0,24 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,05 persen, serta rupee India sebesar 0,08 persen, sementara dolar Hong Kong terpantau bergerak stagnan.

Penguatan rupiah didorong oleh meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan bank sentral yang dinilai masih membuka peluang untuk menaikkan suku bunga.

Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM Pertamax juga direspons positif karena dinilai mampu memperbaiki neraca eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.

Tren positif ini diperkirakan masih berpotensi berlanjut pada perdagangan hari ini, selama tidak ada tekanan eksternal berarti, khususnya terkait eskalasi konflik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah global.

Namun, terdapat faktor pembatas penguatan rupiah yang patut diwaspadai, salah satunya rencana rilis data inflasi dari Amerika Serikat.

Sementara dari sisi domestik, pelaku pasar memperhatikan rilis data kinerja penjualan ritel periode April 2026.

Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada dalam tren penguatan jangka panjang pada 2027 dengan target rerata Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Proyeksi ini dinilai sejalan dengan target pemerintah dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM-PPKF 2027.

Terdapat lima pilar utama yang menjadi dasar keyakinan terhadap potensi apresiasi nilai tukar rupiah.

Faktor pertama adalah keyakinan tensi ketidakpastian global akan mereda, serta faktor kedua yaitu kondisi fundamental ekonomi domestik yang dinilai semakin solid ke depan.

"Demikian juga imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik, pasar keuangan yang berkembang, serta dukungan kecukupan cadangan devisa," ujar perwakilan dalam rapat pengantar pembahasan KEM-PPKF 2027 dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Faktor ketiga berkaitan dengan langkah pemerintah merancang regulasi ekspor sumber daya alam melalui sistem satu pintu lewat pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia serta penerapan aturan baru Devisa Hasil Ekspor.

Faktor keempat yakni komitmen penuh bank sentral memaksimalkan instrumen bauran kebijakan guna membentengi stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi pasar spot maupun transaksi forward domestik dan luar negeri.

Faktor kelima yaitu penguatan sinergi dan koordinasi yang semakin erat antara bank sentral bersama Kementerian Keuangan.

Kedua lembaga otoritas keuangan tersebut telah menyepakati komitmen bersama untuk saling menopang dalam menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memacu akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index