JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sepekan dengan apresiasi sebesar 3,76 persen atau naik 223,82 poin ke posisi 6.177,14 pada Jumat, 19 Juni 2026. Namun, pergerakan indeks pada perdagangan harian Jumat cenderung terbatas dengan penguatan tipis 0,08 persen setelah bergerak mendatar sepanjang sesi.
“IHSG bergerak konsolidasi dan respon investor terhadap laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review cukup positif,” ujarnya. Laporan dari MSCI tersebut memasukkan Indonesia ke dalam kelompok pasar berkembang, tetapi memberikan beberapa catatan krusial untuk pasar modal dalam negeri.
Beberapa poin yang disoroti antara lain keterbukaan informasi kepemilikan saham, indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang berisiko mengganggu pembentukan harga wajar, serta minimnya publikasi berbahasa Inggris untuk pemodal asing.
Perhatian pelaku pasar sekarang mengarah pada rilis MSCI Annual Market Classification Review yang akan diumumkan pada 24 Juni 2026. Evaluasi ini diperkirakan bakal memengaruhi sentimen para pemodal terhadap bursa saham tanah air.
Di samping faktor MSCI, sentimen negatif dari luar negeri dipicu oleh koreksi mata uang rupiah yang merosot ke level Rp17.804 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar ini terjadi akibat keperkasaan dolar AS yang ditopang oleh proyeksi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve pada tahun ini.
“Sektor infrastruktur menjadi yang paling menguat, sementara sektor properti dan real estate mengalami tekanan,” jelasnya. Likuiditas pasar terpantau cukup tinggi dengan nilai transaksi harian yang membukukan angka Rp24,65 triliun.
Beberapa saham berkapitalisasi pasar besar yang menjadi pendorong laju indeks meliputi: BBCA MDKA WIFI AKRA UNVR
Sementara itu, saham-saham yang menjadi pemberat laju pergerakan indeks adalah: TLKM TOWR ADMR AMMN BRPT
Pada pembukaan perdagangan awal pekan mendatang, laju indeks diproyeksikan masih berada dalam fase konsolidasi dengan tren mendatar. “Secara teknikal, IHSG berpotensi bergerak sideways pada kisaran 6.100 hingga 6.250,” ujarnya.
Pemodal akan mengantisipasi beberapa faktor penggerak pasar utama dalam beberapa hari mendatang, khususnya pengumuman hasil MSCI Annual Market Classification Review serta proyeksi kebijakan suku bunga global yang berisiko memengaruhi fluktuasi rupiah dan perputaran modal asing di pasar keuangan domestik.