Harga Emas Antam Merosot Lagi, Ini Rincian Lengkapnya 9 Juli 2026

Harga Emas Antam Merosot Lagi, Ini Rincian Lengkapnya 9 Juli 2026
Ilustrasi Emas Antam, Sumber: sinarharapan.

JAKARTA - Harga logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam terpantau kembali mengalami penurunan pada Kamis (9/7/2026). Nilai komoditas ini merosot sebesar Rp 8.000, melanjutkan tren pelemahan hari sebelumnya yang sempat anjlok hingga Rp 14.000.

Dalam dua hari terakhir, akumulasi penurunan harga komoditas logam mulia milik Antam ini sudah mencapai Rp 22.000 per gram.

Saat ini harga emas Antam dipatok Rp 2.633.000 per gram, mengalami penurunan dibandingkan perdagangan kemarin yang berada di angka Rp 2.641.000 per gram.

Tren penurunan ini juga menyeret harga buyback atau beli kembali yang terpangkas sebesar Rp 10.000. Saat ini, nilai buyback emas berada di angka Rp 2.383.000 per gram.

Nominal tersebut menjadi acuan resmi bagi pemilik komoditas yang berniat menjual kembali logam mulia mereka kepada pihak Antam.

Berdasarkan catatan sejarah, nilai tertinggi komoditas ini pernah menembus rekor Rp 3.168.000 per gram pada Kamis, 29 Januari 2026. Pada momentum tersebut, nilai beli kembali juga sempat menyentuh level Rp 2.989.000 per gram.

Seluruh pergerakan nilai ini diambil dari situs resmi Logam Mulia selaku unit bisnis perusahaan. Data tersebut disajikan dengan tingkat akurasi serta kredibilitas yang tinggi demi keperluan publik.

Di bawah ini merupakan rincian lengkap mengenai daftar harga terbaru untuk logam mulia Antam:

Emas 0,5 gram: Rp 1.366.500

Emas 1 gram: Rp 2.633.000

Emas 2 gram: Rp 5.206.000

Emas 3 gram: Rp 7.784.000

Emas 5 gram: Rp 12.940.000

Emas 10 gram: Rp 25.825.000

Emas 25 gram: Rp 64.437.000

Emas 50 gram: Rp 128.795.000

Emas 100 gram: Rp 257.512.000

Emas 250 gram: Rp 643.515.000

Emas 500 gram: Rp 1.286.820.000

Emas 1.000 gram: Rp 2.573.600.000

Nilai komoditas emas di pasar global bergerak melemah pada perdagangan Rabu setelah berakhirnya kesepakatan sementara dengan Iran diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pernyataan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dan meningkatkan kecemasan terhadap inflasi.

Pada Kamis (9/7/2026), nilai emas di pasar spot menyusut 0,9% menuju level US$ 4.068,09 per ounce pascarilisnya risalah rapat terbaru Bank Sentral AS atau The Fed. Logam berharga ini bahkan sempat terperosok ke titik paling rendah sejak tanggal 2 Juli.

Di sisi lain, kontrak berjangka komoditas emas AS untuk masa pengiriman Agustus ikut melemah 1,5% ke posisi US$ 4.095,30 per ounce.

"Faktor utama yang menggerakkan pasar hari ini adalah meningkatnya eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Dengan potensi berakhirnya gencatan senjata, kami melihat hampir seluruh aset berisiko diperdagangkan lebih rendah, termasuk emas," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Eskalasi situasi memanas kembali sesudah adanya klaim dari pihak Iran mengenai serangan ke fasilitas militer milik AS di Kuwait dan Bahrain. Tindakan tersebut menjadi balasan atas operasi militer AS ke beberapa wilayah Iran akibat insiden kapal tanker di Selat Hormuz.

Kondisi tegang ini seketika membuat nilai minyak mentah melonjak di atas 5%, sehingga melahirkan kekhawatiran baru atas inflasi global.

Lonjakan pada sektor energi ini berisiko memperparah tekanan ekonomi sehingga mendorong bank sentral mempertahankan atau mendongkrak suku bunga demi menekan harga.

Walaupun sering dijadikan instrumen lindung nilai, emas umumnya kurang diminati saat tingkat suku bunga tinggi sebab tidak menawarkan imbal hasil berkala.

Pada sisi yang berbeda, pergerakan pasar komoditas ini tidak memperlihatkan respons yang berarti pascapublikasi risalah rapat FOMC tanggal 16-17 Juni.

Berkas itu mengindikasikan adanya perbedaan pandangan di antara internal pejabat bank sentral terkait arah kebijakan moneter. Pada pertemuan perdana di bawah pimpinan Ketua FOMC Kevin Warsh, beberapa anggota menganggap inflasi berpeluang turun sehingga ada celah pemangkasan suku bunga.

Kendati demikian, kelompok lain memprediksi tekanan harga tetap tinggi sehingga opsi menaikkan suku bunga masih perlu dikaji matang.

"Saat ini prospek arah suku bunga masih belum jelas. Pasar terus mencari berbagai informasi yang dapat memberikan kepastian mengenai arah kebijakan kenaikan suku bunga ke depan," ujar Meger.

Para pelaku sektor keuangan kini tetap mengawasi pergerakan kebijakan moneter di AS. Merujuk pada CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga di bulan September menyentuh kisaran 67%, naik dari angka 62% pada hari sebelumnya.

Di sisi lain, riset Bank of America memotong proyeksi rerata harga emas tahun 2026 sebesar 14% ke level US$ 4.360 per ounce. Langkah penyesuaian ini dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral yang dinilai lebih agresif atau hawkish.

Walau begitu, lembaga tersebut memperkirakan nilai emas masih memiliki peluang menyentuh US$ 5.000 per ounce begitu fase pengetatan moneter selesai.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index