JAKARTA - Sejumlah analis keuangan berpandangan bahwa instrumen surat berharga negara masih diminati oleh para investor global.
Faktor dinamika internasional beserta evolusi kebijakan fiskal diproyeksikan menjadi penentu utama masuknya dana asing ke pasar keuangan domestik.
Pimpinan bidang ekonomi sebuah bank swasta besar menyatakan bahwa lonjakan tajam pada imbal hasil surat berharga negara sejak pertengahan tahun ini telah mendongkrak daya pikat instrumen tersebut di kalangan pemodal asing.
Berdasarkan data kumulatif bulanan per tanggal tertentu, tercatat aliran dana masuk senilai sembilan triliun rupiah pada instrumen tersebut.
Sementara itu, akumulasi sejak awal tahun memperlihatkan angka modal masuk telah menyentuh enambelas triliun rupiah.
“Outlook ke depannya akan sangat bergantung dinamika global dan perkembangan fiskal dalam negeri,” ujar sumbernya kepada media, awal pekan ini.
Seorang peneliti senior dari lembaga kajian ekonomi independen melihat prospek masuknya dana asing ke instrumen surat berharga negara masih menjanjikan, sekalipun para investor kini bertindak jauh lebih berhati-hati.
Kebijakan pengetatan suku bunga acuan bank sentral dalam beberapa bulan lalu telah mendorong kenaikan imbal hasil sehingga valuasi instrumen tersebut kembali menarik.
“Selisih imbal hasil dengan US Treasury tenor 10 tahun juga masih cukup kompetitif, sehingga pada kuartal II – 2026 aliran dana asing ke pasar obligasi mencapai sekitar US$ 8,5 miliar dan masih berlanjut, meski lebih terbatas, pada awal kuartal III,” terang sumbernya.
Kendati demikian, pengamat tersebut menilai bahwa keberlangsungan modal masuk tetap bergantung pada arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, fluktuasi harga minyak mentah akibat ketegangan politik global, serta ketahanan nilai tukar rupiah yang bergerak di sekitar delapan belas ribu rupiah per dolar Amerika Serikat.
“Dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung memilih obligasi tenor menengah untuk membatasi risiko durasi,” ucap sumbernya.
Di sisi lain, analis tersebut mengungkapkan bahwa mundurnya Gubernur Bank Central memunculkan ketidakpastian jangka pendek sebab para pelaku pasar menilai kredibilitas serta konsistensi aturan moneter merupakan elemen vital.
Reaksi awal pasar telah termanifestasi melalui depresiasi mata uang lokal serta koreksi di sektor saham.
Meskipun demikian, penunjukan figur pengganti sebagai pelaksana tugas memberikan isyarat bahwa haluan kebijakan tidak akan mengalami perubahan drastis mengingat yang bersangkutan terlibat aktif dalam penyusunan bauran kebijakan bank sentral selama ini.
Oleh karenanya, dampak yang timbul diprediksi lebih bersifat sentimen sesaat selama masa transisi pemilihan pejabat definitif berlangsung secara transparan dan independensi lembaga keuangan sentral terjaga.
Sejalan dengan pandangan tersebut, pimpinan ekonomi perbankan juga melihat bahwa dalam horizon jangka pendek, pergantian pimpinan tertinggi bank sentral sanggup memicu ketidakpastian.
Kendati begitu, formasi dewan gubernur lainnya tetap bertahan sehingga terdapat ekspektasi bahwa kebijakan tidak akan berubah sampai hadirnya pejabat definitif yang baru.
Menatap periode berikutnya, peneliti ekonomi tersebut memproyeksikan aliran dana asing pada kuartal ketiga tahun ini bakal sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global.
Dari dalam negeri, perhatian utama pemodal terpusat pada konsistensi pemeliharaan stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi sesuai target, serta kelangsungan instrumen penunjang lindung nilai.
Sementara dari kancah global, fokus perhatian tertuju pada arah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, hasil keputusan komite pasar terbuka bank sentral Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi sentimen risiko.
“Jika diferensial yield tetap menarik dan rupiah lebih stabil, arus masuk modal masih berpeluang berlanjut meski tidak sebesar kuartal sebelumnya,” terang sumbernya.
Terkait estimasi imbal hasil surat berharga negara tenor sepuluh tahun, pengamat tersebut memperkirakan angka tersebut akan bergerak pada rentang tujuh koma dua puluh persen sampai tujuh koma lima puluh persen pada kuartal ketiga.
Saat ini posisi imbal hasil berada di kisaran tujuh koma tiga puluh persen setelah pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap pengetatan moneter.
Jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah mereda dan minat pemodal asing kembali pulih, imbal hasil berpeluang turun mendekati batas bawah kisaran tersebut.
Sebaliknya, apabila ketidakpastian kebijakan moneter terus berlangsung atau bank sentral Amerika Serikat kembali melontarkan sinyal pengetatan agresif, imbal hasil masih berpotensi merangkak naik mendekati tujuh koma lima puluh persen.
“Secara keseluruhan, daya tarik SBN Indonesia tetap kuat dari sisi carry trade, tetapi investor akan semakin selektif hingga arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan baru benar-benar memperoleh kepercayaan pasar,” ujar sumbernya.
Sementara itu, pimpinan perbankan memperkirakan potensi kenaikan imbal hasil instrumen tersebut terbatas apabila dibandingkan dengan level saat ini, sejalan dengan prediksi penerapan kebijakan moneter ketat hingga akhir tahun ini.
Selain faktor kebijakan eksternal, perkembangan fiskal serta dinamika geopolitik terutama di kawasan Timur Tengah menjadi faktor penentu utama, di mana risiko kenaikan inflasi juga berpotensi mendorong lonjakan imbal hasil.