JAKARTA - Dinamika menarik melingkupi pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA.
Usai mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 100,4 miliar pada Jumat, penanam modal asing berbalik melakukan pembelian bersih pada saham BBCA nilai Rp 78,29 miliar pada Senin.
Akumulasi beli asing berlangsung ketika harga penutupan saham Bank Central Asia menyusut 0,40% menuju posisi Rp 6.300.
Sebanyak 68,14 juta lembar saham BCA berpindah tangan, dengan frekuensi 17.670 kali transaksi, serta akumulasi nilai mencapai Rp 429,18 miliar.
Tingkat volume perdagangan saham entitas perbankan swasta terkemuka ini menyusut dari akhir pekan lalu yang sempat mencatatkan nilai transaksi hingga Rp 973,98 miliar.
Menilik rekapan broker summary dari platform Stockbit Sekuritas, perantara Maybank Sekuritas mencatatkan akumulasi beli bersih saham BBCA bagi pemodal luar negeri sebesar Rp 163,8 miliar pada Senin kemarin.
Sepanjang kurun satu bulan terakhir, performa saham grup Djarum BBCA ini terangkat 8,62% diiringi aksi borong pemodal luar negeri dengan nilai net buy mencapai Rp 1,17 triliun.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sanggup mengamankan raihan laba bersih mencapai Rp 29,55 triliun sepanjang semester I-2026, atau terangkat 1,8%, mengover 48% dari proyeksi keuntungan tahunan versi dari sumbernya.
Dari sumbernya mempertahankan proyeksi positif untuk saham BBCA, walaupun sasaran harga saham mengalami penyesuaian ke bawah.
Merujuk kajian dari sumbernya, kenaikan laba yang cenderung terbatas mengindikasikan daya tahan finansial di tengah ketatnya kompetisi likuiditas serta penyesuaian tingkat suku bunga.
Capaian tersebut ditopang kenaikan hasil bunga sebesar 1% menuju Rp 49,86 triliun, walaupun pendapatan bunga bersih (NII) cenderung stagnan tergerus lonjakan biaya bunga mencapai 7,8%.
"Di sisi lain, BBCA tetap mampu mempertahankan kualitas profitabilitas dengan NIM sebesar 5,4%, didukung oleh credit cost yang tetap rendah di kisaran 0,4%, menegaskan posisi perseroan sebagai salah satu bank dengan profil risiko paling defensif di industri," tulis dari sumbernya, dikutip Senin.
Dari sumbernya melakukan penyesuaian ke bawah terhadap proyeksi laba bersih BBCA pada 2026 serta 2027 masing-masing ke angka Rp 59,11 triliun dan Rp 65,41 triliun, mempertimbangkan moderasi penyaluran pinjaman dari asumsi awal.
Kendati demikian, dari sumbernya menilai angka NIM BBCA bakal bertahan stabil disokong oleh kuatnya porsi dana murah (CASA).
Dari sumbernya konsisten menyematkan saran beli saham BBCA pada target nilai wajar Rp 7.800, terkoreksi tajam dibanding perkiraan lama pada angka Rp 10.075.
Kalkulasi ini mengacu pada kalkulasi model DDM, diimbangi posisi PBV yang berada di bawah -2 standar deviasi (SD) rata-rata lima tahunan sebesar 3,07 kali.