Respons Kebijakan Suku Bunga BI Dorong Penguatan Pasar Saham Nasional

Rabu, 10 Juni 2026 | 10:48:49 WIB
Ilustrasi Suku Bunga, Sumber: pegadaian.

JAKARTA - Bank Indonesia resmi memutuskan untuk meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, sehingga kini berada di level 5,5%. Kebijakan penyesuaian ini juga diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% serta suku bunga Lending Facility yang menyentuh angka 6,25%.

Langkah pengetatan moneter secara mendadak ini diambil akibat kondisi depresiasi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus merosot. Penurunan nilai tukar domestik tersebut diakui telah melampaui kalkulasi awal yang diprediksi oleh bank sentral.

"Dalam berbagai evaluasi hari ini kami melihat, lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kami proyeksikan dulu," ucap Gubernur BI usai menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI.

Melalui ketetapan moneter ini, bank sentral menargetkan agar nilai tukar rupiah dapat berjalan stabil dan bergerak ke arah penguatan. Selain itu, penyesuaian suku bunga acuan tersebut diproyeksikan mampu merangsang kembalinya modal asing ke pasar domestik setelah beberapa waktu terakhir mengalami fenomena capital outflow.

"Kenaikan BI Rate ini untuk menarik masuknya investasi portfolio asing karena sejak April-Mei itu SBN-SRBI outflow sehingga kami perlu menaikkan BI Rate agar rupiahnya menguat, stabil dan inflasinya dan inflasinya tahun depan tetap dalam sasaran," terang Gubernur BI.

Langkah strategis bank sentral ini mendapat respons positif dari pemerintah. Kebijakan penyesuaian suku bunga acuan tersebut dianggap sebagai opsi yang sangat tepat guna melindungi stabilitas ekonomi nasional serta membentengi pasar dari volatilitas global.

Menurut pandangan pemerintah, reaksi pelaku pasar terhadap regulasi moneter ini menunjukkan indikator positif. Hal ini terlihat dari laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali ke zona hijau, disertai nilai tukar mata uang domestik yang mulai berangsur menguat.

"BI rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Dengan BI rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian Rupiah juga sedikit menguat," ujar Menteri Koordinator Perekonomian di Jakarta Pusat.

Pada penutupan sesi perdagangan, performa IHSG dilaporkan melesat 404,51 poin menuju posisi 5.746,64 atau mengalami pertumbuhan sebesar 7,52%.

Nilai tukar rupiah pun terpantau menunjukkan keperkasaan terhadap dolar AS dengan mata uang asing tersebut turun 129,50 poin ke tingkat Rp 18.058.

Pemerintah menekankan bahwa pemeliharaan stabilitas fundamental ekonomi nasional tetap menjadi fokus utama. Ketahanan makroekonomi domestik dinilai masih berada dalam performa solid, baik dilihat dari indikator kinerja ekspor maupun instrumen makro lainnya.

"Jadi respons dari pasar terhadap stabilisasi dari BI rate ini cukup baik. Oleh karena itu, tentu kami terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi, karena ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro," terang Menteri Koordinator Perekonomian.

Pemerintah sekaligus menyanggah pandangan bahwa akselerasi peningkatan suku bunga acuan ini terkesan diputuskan terburu-buru. Penyesuaian ini justru memperlihatkan fleksibilitas serta kegesitan otoritas dalam mengantisipasi dinamika pasar keuangan global yang fluktuatif.

"Karena ini memang dibutuhkan, market membutuhkan signal yang kuat. Kenaikan BI rate 25 basis point itu market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang," jelas Menteri Koordinator Perekonomian.

Terkini