JAKARTA - Harga komoditas kuning berharga ini diproyeksikan masih akan bergerak secara fluktuatif akibat pengaruh dari dinamika geopolitik dunia. Mengikuti situasi tersebut, nilai jual produk emas batangan lokal berpeluang melanjutkan tren penurunan dan mengalami pelemahan dalam jangka waktu dekat.
Pergerakan nilai global saat ini tertahan pada area batas bawah di angka US$ 4.155 per troy ons, sejalan dengan posisi penutupan perdagangan paling akhir yang bertengger pada level serupa. Situasi pasar yang demikian memperlihatkan adanya fase konsolidasi yang cukup rentan terhadap risiko koreksi lanjutan.
Apabila tekanan pasar terus berlanjut pada pembukaan perdagangan awal pekan, nilai global diprediksi bakal menguji area batas bawah pertama pada posisi US$ 4.088 per troy ons. Jika kondisi penurunan tersebut bergerak semakin mendalam, nilai komoditas ini memiliki peluang untuk merosot hingga menyentuh batas bawah kedua di level US$ 3.859 per troy ons.
“Sebaliknya, jika terjadi penguatan, resistance pertama berada di US$ 4.243 per troy ons, dengan potensi kenaikan lanjutan menuju US$ 4.465 per troy ons,” katanya.
Mengenai nilai produk lokal batangan sendiri, area batas bawah diproyeksikan berada pada rentang Rp 2,648 juta per gram. Melalui skenario penurunan yang terus berlanjut, nilainya memiliki peluang untuk terkoreksi lebih dalam lagi hingga menyentuh angka Rp 2,55 juta per gram.
Di sisi lain, area batas atas berada pada kisaran Rp 2,688 juta sampai dengan Rp 2,790 juta per gram apabila pergerakan nilai kembali berbalik menguat. Dengan perhitungan tersebut, aktivitas perdagangan produk lokal batangan untuk pekan depan diperkirakan bakal bergulir dalam rentang harga antara Rp 2,55 juta hingga Rp 2,79 juta per gram.
“Fluktuasi harga ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan indeks dolar, harga minyak mentah, serta sentimen global terhadap aset safe haven seperti emas,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Kondisi pasar pada saat ini secara umum digerakkan oleh kombinasi empat aspek utama yang meliputi situasi geopolitik, arah kebijakan politik di Amerika Serikat, langkah yang diambil oleh bank sentral Amerika Serikat, serta dinamika penawaran dan permintaan di tingkat global. Seluruh aspek tersebut saling memengaruhi satu sama lain dan melahirkan ketidakpastian pada pasar sektor keuangan.
Melihat dari sektor geopolitik, pihak Amerika Serikat bersama pihak Iran dikabarkan telah menandatangani sebuah kesepakatan awal untuk melangsungkan proses negosiasi yang dijadwalkan berjalan selama 60 hari. Poin dari kesepakatan tersebut mencakup rencana pembukaan kembali wilayah Selat Hormuz serta program penghapusan sanksi sektor ekonomi.
Kendati demikian, ketegangan regional kembali merangkak naik setelah pihak Israel dan pihak Lebanon terpantau masih terus terlibat dalam aksi saling serang. Situasi yang memanas ini memicu pihak Iran mengeluarkan ancaman untuk memblokade kembali Selat Hormuz apabila keadaan tidak kunjung memperlihatkan tanda perbaikan.
Pada bagian perkembangan lain, Wakil Presiden Amerika Serikat bersama jajaran pejabat dari Iran dan Pakistan mengadakan pertemuan tatap muka kembali di wilayah Jenewa, Swiss, guna membicarakan kelanjutan nota kesepahaman yang berkaitan dengan persoalan reaktor nuklir.
Ditambahkan pula bahwa Pemimpin Amerika Serikat Donald Trump memberikan penegasan mengenai tiadanya penerapan biaya penyeberangan atau transit sepanjang masa jalannya negosiasi, sekaligus memberikan peringatan keras terhadap seluruh pihak yang berupaya mengacaukan jalur perdagangan internasional.
“Sementara itu, pasar minyak global dinilai masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan (oversupply), yang turut menekan pergerakan harga komoditas,” jelas Ibrahim.