JAKARTA - Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, prospek pasar saham domestik hingga akhir 2026 tetap menjanjikan. Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan mampu menembus level psikologis 7.500, ditopang oleh stabilitas rupiah yang mulai membaik serta potensi masuknya kembali aliran dana asing.
Stabilitas mata uang Garuda menjadi faktor penting yang memperkuat kepercayaan investor dan menopang penguatan pasar saham beberapa bulan ke depan.
Rupiah berpeluang bergerak lebih stabil dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Kurs diperkirakan menguat di kisaran Rp 17.400-Rp 17.600 per dollar AS seiring langkah stabilisasi otoritas moneter. Kondisi ini dinilai mampu mengurangi fluktuasi kurs yang selama ini menjadi pertimbangan utama investor asing.
Ketika rupiah stabil, tingkat ketidakpastian berkurang sehingga meningkatkan daya tarik aset domestik sekaligus mendukung neraca perdagangan Indonesia.
Membaiknya kondisi eksternal dan menurunnya risiko nilai tukar menjadi katalis positif bagi pasar saham karena mendorong kembalinya aliran dana asing. “Ketika pergerakan rupiah mulai stabil, risiko fluktuasi kurs bagi investor otomatis akan berkurang drastis. Hal ini jelas menjadi katalis yang sangat positif bagi pasar modal kami, karena kestabilan kurs lambat laun akan memperkuat performa neraca perdagangan sekaligus memicu kembalinya aliran dana asing secara masif ke Indonesia,” ujarnya Kamis malam (18/6/2026).
Sepanjang 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
Kenaikan dilakukan bertahap, mulai 50 basis poin pada 20 Mei, 25 basis poin pada 9 Juni, dan kembali 25 basis poin pada 18 Juni. Pada penutupan perdagangan Kamis sore, rupiah di pasar spot melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp 17.794 per dollar AS, tak lama setelah BI menaikkan suku bunga.
Meski BI masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan, prospek pasar saham dalam negeri tetap optimistis. Stabilitas rupiah dan berkurangnya ketidakpastian kebijakan menjadi faktor penguatan pasar.
“Meskipun BI masih membuka ruang untuk kenaikan suku bunga lanjutan, kami tetap optimistis melihat target jangka panjang bursa domestik,” paparnya. IHSG diyakini masih memiliki ruang penguatan cukup besar untuk menembus level 7.500 hingga akhir 2026.
Namun, kenaikan suku bunga acuan memberi tantangan bagi saham bertumbuh. Kenaikan BI Rate mendorong naiknya risk-free rate yang menjadi komponen utama penilaian valuasi saham.
Secara teori, kenaikan suku bunga meningkatkan tingkat diskonto sehingga nilai masa depan dari ekspektasi pertumbuhan jangka panjang emiten growth cenderung menurun. “Ketika tingkat diskonto naik, maka nilai masa depan dari ekspektasi pertumbuhan jangka panjang emiten-emiten growth ini akan cenderung menyusut, sehingga valuasinya terlihat menjadi lebih ketat atau mahal,” katanya.
Di sisi lain, sektor perbankan justru menjadi salah satu yang paling diuntungkan. Bank memiliki peluang meningkatkan margin bunga bersih atau net interest margin saat kenaikan BI Rate.
“Sektor perbankan tetap menjadi sektor yang paling diuntungkan di era suku bunga tinggi ini karena adanya ruang perbaikan pada Net Interest Margin mereka,” lanjutnya. Meski risiko perlambatan pertumbuhan kredit tetap ada, industri perbankan kini lebih siap dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Namun, kalau kami perhatikan historisnya, tren perlambatan kredit ini sebenarnya sudah mulai terjadi secara bertahap sejak mencapai titik puncaknya di tahun 2024 lalu. Jadi, perbankan kami sudah jauh lebih siap memitigasi risiko tersebut,” ungkapnya.