JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari Jumat 17 Juli 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif tetapi ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda diproyeksikan bakal berada di rentang Rp17.986 sampai Rp18.030 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah justru berhasil menguat sebesar 82 poin. Posisi tersebut membuat rupiah meninggalkan level psikologis Rp18.000 menjadi Rp17.986 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah saat ini masih berada di bawah tekanan sentimen negatif. Dari sisi global, sentimen bersumber dari kebijakan The Fed yang diprediksi mengerek suku bunga guna mempertahankan inflasi di level 2 persen.
Kebijakan bank sentral Amerika Serikat ke depan nantinya ikut terpengaruh oleh kondisi inflasi energi. Apalagi, konflik yang kembali pecah di kawasan Timur Tengah kini mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Menurut Ibrahim Assuaibi, eskalasi terbaru tersebut kembali memicu kekhawatiran terkait tingginya biaya energi yang dapat mendorong inflasi di masa mendatang. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang bagi Federal Reserve dalam melonggarkan kebijakan mereka.
"Terlepas dari latar belakang inflasi yang lebih lunak, pertempuran yang kembali terjadi di Timur Tengah telah membuat investor tetap waspada," ujarnya.
Sementara dari dalam negeri, pasar saat ini fokus mencermati upaya pemerintah mengendalikan inflasi serta langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Pemerintah diketahui tengah menyiapkan berbagai langkah fiskal untuk menekan inflasi, khususnya komoditas pangan yang volatil dan kenaikan biaya industri.
Ibrahim Assuaibi mencatat adanya sejumlah langkah mitigasi demi menjaga laju inflasi, terutama pada komponen harga pangan bergejolak serta biaya produksi yang berisiko menaikkan harga barang.
"Selain itu, Bank Indonesia mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal itu menyusul laporan S&P Global Ratings terkait peringkat utang dan outlook Indonesia. Sebelumnya, independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings," kata dia.