BATANG - Nikmatnya racikan kopi nyatanya menghantarkan Ika Yuanita pada sebuah alur perjalanan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.
Berawal dari kepeduliannya terhadap nasib para petani kopi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ia memberanikan diri membangun PT Kingkaf Makmur Sejahtera sejak tahun 2017.
Kini, komoditas yang ia rintis lewat pengolahan sederhana tersebut berhasil menjangkau para penikmat kopi di bermacam-macam negara.
Kiprah awal Kingkaf hadir saat Ika mengamati hasil panen petani setempat mempunyai potensi luar biasa, namun belum dikelola secara optimal.
Terbatasnya wawasan mengenai prosedur pascapanen membuat biji kopi yang diproduksi belum memunculkan nilai tambah yang sepadan.
Dari situlah muncul iktikad Ika untuk mendampingi para petani sekaligus membawa komoditas kopi daerah ke pangsa pasar yang kian luas.
Kendati demikian, merintis jaringan pasar dari titik nol bukanlah perkara yang gampang.
Tanpa jalur distribusi yang kuat, Ika menawarkan barang dagangannya secara langsung dari satu calon pembeli ke pembeli lainnya.
Ia menemui rekan, kenalan, hingga kelompok masyarakat yang diperkirakan mempunyai minat terhadap produknya.
“Pada awalnya, proses penjualan kopi kami lakukan secara door to door melalui rekanan dan kenalan,” kenang dari sumbernya dikutip Jumat (31/7/2026).
Lambat laun, respons pasar mulai menunjukkan pertumbuhan positif.
Usaha yang mulanya mengandalkan pola jualan langsung tersebut lantas bertransformasi menjadi kedai kopi dan tempat makan.
Sepanjang perjalanannya, Kingkaf bahkan sempat mengoperasikan enam outlet, sebuah capaian yang menandai lonjakan bisnisnya dari skala rumahan menjadi bisnis kuliner yang makin populer.
Sayangnya, sewaktu gelombang pandemi Covid-13 melanda, enam cabang yang sebelumnya menjadi tumpuan utama usaha Kingkaf menghadapi tekanan hebat.
Restriksi mobilisasi publik membuat Ika mesti menentukan keputusan krusial: mempertahankan konsep lama atau mencari terobosan baru supaya bisnisnya tetap berjalan.
Di tengah situasi tersebut, Ika lantas memindahkan fokus Kingkaf dari bisnis kedai dan rumah makan ke penjualan produk kemasan via jaringan reseller.
Langkah strategis tersebut menjadi titik balik berharga bagi kelangsungan Kingkaf.
Produk yang tadinya sangat bergantung pada kedatangan pembeli di kedai mulai merambah area pasar yang lebih luas sekaligus membuka peluang pendapatan bagi warga sebagai mitra penjualan.
Seiring meningkatnya jumlah reseller dan meluasnya jangkauan pemasaran, kebutuhan pengelolaan Kingkaf pun bertambah kompleks.
Ika tak lagi sekadar memikirkan cara memproduksi barang yang baik, tetapi juga tata cara mengatur alur transaksi, modal usaha, promosi digital, sampai kapasitas produksi secara lebih terorganisasi.
Pada fase inilah keterlibatan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI mulai menjadi bagian dari rekam jejak pertumbuhan Kingkaf.
Guna menopang transaksi harian, Ika memanfaatkan fasilitas transfer dan QRIS BRI yang membantunya memproses pembayaran dari konsumen secara cepat dan praktis.
Ia pun memakai kemudahan pembiayaan mikro BRI demi menjaga ritme operasional serta menyokong kebutuhan ekspansi bisnis.
“QRIS sangat membantu karena transaksi penjualan dapat diproses dengan cepat. Untuk kebutuhan permodalan, proses pembiayaan mikro BRI juga mudah dan cepat sehingga mendukung operasional usaha kami,” ujarnya.
Namun demikian, sokongan yang diperoleh Ika tidak berhenti pada akses transaksi dan modal semata.
Atas saran seorang kawan sesama pelaku UMKM, ia lantas mengenal Rumah BUMN BRI Semarang pada tahun 2020 sebagai wadah bagi para pengusaha untuk belajar, berdiskusi, serta memperluas koneksi.
Ika pun memberanikan diri berkomunikasi dengan pengurus Rumah BUMN BRI Semarang, mengenalkan komoditasnya, serta memaparkan beragam tantangan yang dihadapi Kingkaf.
Dari perjumpaan tersebut, ia mulai rajin mengikuti bermacam sesi pelatihan yang membantunya memahami pengelolaan bisnis dari kacamata berbeda.
“Petugas BRI sangat terbuka dan sangat ramah saat saya berminat masuk rumah pendampingan mereka. Di sana, saya merasa peran Rumah BUMN BRI Semarang sangat besar dalam mendukung perkembangan usaha saya. Dari berbagai pembelajaran yang diperoleh, pola pikir saya berubah. Menjual produk ternyata tidak cukup hanya dengan menawarkan kualitas, tetapi juga harus memberikan solusi bagi kebutuhan konsumen,” ungkap dari sumbernya.
Transformasi cara pandang itu kemudian memengaruhi bermacam elemen manajemen Kingkaf.
Lewat pelatihan digitalisasi, pencatatan keuangan, permodalan, legalitas usaha, serta keikutsertaan dalam acara pameran dan agenda pemasaran, Ika mulai menata usahanya dengan fondasi yang kian kokoh.
Bagi dirinya, Rumah BUMN BRI Semarang turut menghadirkan nilai yang tak kalah penting, yaitu ekosistem yang memungkinkan para pelaku UMKM untuk tumbuh bersama.
“Di Rumah BUMN BRI Semarang, kami dapat saling mendukung, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Jadi, bukan hanya belajar mengenai bisnis, tetapi juga bertumbuh bersama pelaku UMKM lainnya,” katanya.
Bekal wawasan, kemudahan sarana, serta jaringan tersebut menuntun Kingkaf melangkah ke level perkembangan berikutnya.
Beralamat pusat produksi di Semarang dengan mempekerjakan 12 orang tenaga kerja, Kingkaf kini memasarkan produknya lewat situs resmi e-commerce papan atas Indonesia.
Jangkauan pasarnya pun tak lagi terbatas di lingkup domestik saja.
Komoditas Kingkaf berhasil menembus pasar Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Selandia Baru, hingga Hong Kong.
Pencapaian tersebut membuktikan bahwa produk yang berakar dari potensi petani daerah mampu mendapatkan tempat di pasar internasional saat dikelola lewat inovasi serta komitmen usaha yang konsisten.
Dalam kesempatan terpisah, dari sumbernya menerangkan bahwasanya besarnya potensi produk lokal untuk berkembang dan merambah pasar global wajib diimbangi oleh pendampingan yang utuh, mulai dari ketersediaan modal, penguatan legalitas, pemanfaatan teknologi digital, perluasan relasi, hingga pembukaan akses pasar.
“Melalui program pemberdayaan Rumah BUMN, BRI menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Ekosistem ini diharapkan dapat membantu UMKM membangun fondasi usaha yang lebih kuat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar dari sumbernya.
Menurut penjelasannya, pertumbuhan sektor UMKM turut menghadirkan dampak ekonomi yang makin luas bagi warga di sekitarnya.
Seiring meningkatnya skala bisnis dan daya tampung produksi, UMKM mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja sekaligus mendongkrak denyut aktivitas ekonomi lokal.