Pentingnya Sinergi Kebijakan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,61 Persen

Pentingnya Sinergi Kebijakan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,61 Persen
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung (dua kiri) saat memberikan paparan dalam The 20th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) International /Conference (FOTO: NET)

BALI - Wakil Menteri Keuangan dari sumbernya menguraikan bahwa integrasi arah kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial, hingga sektor finansial merupakan kunci memelihara stabilitas sekaligus memicu ekspansi ekonomi di tengah tingginya gejolak dunia.

Pernyataan ini diutarakan dalam ajang The 20th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) International Conference di Bali, Jumat (31/7).

Dalam pemaparannya, dari sumbernya merinci bahwa instrumen moneter bertindak sebagai benteng terdepan untuk memelihara stabilitas kurs, meredam inflasi, serta menumbuhkan kembali keyakinan pasar.

Akan tetapi, perubahan tingkat suku bunga berimplikasi pada ekspansi, sehingga patut diselaraskan dengan strategi fiskal yang menopang daya beli warga dan regulasi makroprudensial guna memproteksi likuiditas serta penyaluran pembiayaan.

Dari aspek fiskal, otoritas mengeksekusi beragam strategi seperti mengawal harga energi dan bahan pangan, merealisasikan kegiatan prioritas, mengoptimalkan penghematan pengeluaran, serta mengawal defisit anggaran tetap berada di bawah kisaran 3 persen dari PDB.

Alokasi subsidi energi pun konsisten dipertahankan untuk mengawal daya beli publik dan membendung laju inflasi.

dari sumbernya menggarisbawahi krusialnya harmonisasi lintas instansi lewat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang mempertemukan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Wadah ini mengemban fungsi memetakan potensi risiko, merancang tindakan kebijakan terintegrasi, serta mengawal ketahanan sistem keuangan di tengah fluktuasi dunia.

dari sumbernya menambahkan, perpaduan kebijakan yang tangguh telah memperkokoh daya tahan finansial dalam negeri.

Pada triwulan I 2026, laju ekonomi nasional sanggup tumbuh 5,61 persen, laju inflasi terjaga dalam sasaran, defisit anggaran paruh pertama berada pada posisi 0,76 persen dari PDB, akumulasi cadangan devisa menembus USD145,6 miliar, serta ekspansi pembiayaan naik sebesar 12,67 persen.

Berdasarkan penuturan dari sumbernya, keberhasilan tersebut membuktikan keandalan sinergi kebijakan dalam memelihara keseimbangan ekonomi di tengah hambatan dunia yang kian rumit.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index