JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk mulai mencatatkan percepatan dalam penyaluran pembiayaan pada bulan keenam tahun 2026.
Secara mandiri (bank only), kucuran kredit lembaga keuangan ini tumbuh sebesar 7,98% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya hingga menyentuh angka Rp 1.003,72 triliun, yang sekaligus menjadi pencapaian tertinggi sepanjang tahun ini.
Raihan tersebut meroket dibandingkan dengan laju pertumbuhan sebesar 4,85% pada bulan sebelumnya.
Capaian ini mengindikasikan adanya kebangkitan ekspansi pembiayaan setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan sejak kurun waktu awal 2025.
Sebagai pembanding, laju ekspansi pembiayaan perseroan sempat menyentuh level 15,07% pada Januari 2025 sebelum terus melorot hingga ke posisi 4,54% pada April 2026.
Pemulihan pada Juni ini menjadi petunjuk bahwa perseroan mulai menggenjot kembali peran intermediasinya.
Perkembangan tersebut juga tecermin dari pergeseran struktur aktiva produktif dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagian dana simpanan yang tadinya ditempatkan pada instrumen berlikuiditas tinggi mulai dialokasikan untuk menyokong kucuran pembiayaan.
Penempatan dana pada otoritas moneter tercatat menyusut 30,18% secara bulanan, sedangkan kepemilikan efek berharga berkurang 6,16%.
Pada saat bersamaan, alokasi dana tersebut berpindah ke portofolio pembiayaan yang saat ini terus merangkak naik.
Melalui pemaparan capaian separuh pertama 2026, pihak manajemen juga menegaskan tidak melakukan revisi terhadap Rencana Bisnis Bank.
Perseroan tetap membidik target ekspansi pembiayaan secara konsolidasian di kisaran 8-10% hingga akhir 2026.
Sumbangan kucuran pembiayaan secara bank only masih sangat mendominasi, yakni sebesar 98,20% dari keseluruhan kredit konsolidasi yang mencapai Rp 1.022,04 triliun.
Akselerasi penyaluran pembiayaan ke depan bakal ditopang oleh kondisi ketersediaan dana yang tetap tebal.
Perolehan dana pihak ketiga mengalami kenaikan 7,76% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 1.253,14 triliun pada Juni 2026.
Kenaikan simpanan masyarakat ini utamanya dipacu oleh akumulasi dana murah yang terangkat 10,03%, sehingga memungkinkan bank untuk tetap menekan biaya dana.
Di sisi lain, perseroan terus menjalankan langkah efisiensi dengan mengurangi ketergantungan pada dana berbiaya tinggi berupa simpanan berjangka.
Komposisi simpanan masyarakat memperlihatkan akun giro mencapai Rp 440,67 triliun atau naik 15,21%, saldo tabungan sebesar Rp 626,66 triliun atau terangkat 6,66%, sementara simpanan berjangka terdepresiasi 3,67% menjadi Rp 185,80 triliun.
Dengan kondisi struktur permodalan tersebut, tingkat loan to deposit ratio berada di level 80,10%, sedangkan porsi current account saving account menyentuh 85,17%.
Posisi ini memberikan keleluasaan bagi perseroan untuk mempertahankan tingkat suku bunga pembiayaan yang bersaing sekaligus menjaga efisiensi beban dana.
Di tengah bergairahnya kembali penyaluran kredit, tantangan selanjutnya bagi perseroan adalah mempertahankan margin keuntungan.
Hingga Juni 2026, perolehan laba bersih secara bank only cuma terangkat 1,01% menjadi Rp 30,19 triliun.
Dampak perlambatan penyaluran kredit pada periode sebelumnya menyebabkan penerimaan bunga hanya tumbuh 0,80%, sementara beban bunga melonjak lebih tinggi sebesar 7,70%.
Kondisi tersebut mengakibatkan perolehan pendapatan bunga bersih mengalami penurunan 0,28% menjadi Rp 39,63 triliun.
Tekanan ini juga terlihat pada rasio net interest margin yang tergerus 47 basis poin secara tahunan menjadi 5,25% dari sebelumnya 5,72% pada Juni 2025.
Kendati demikian, secara menyeluruh perseroan tetap menargetkan margin bunga bersih berada pada rentang 5,4-5,6% sampai penghujung tahun.
Di sisi berbeda, penerimaan dari biaya layanan atau komisi menjadi penyokong kinerja dengan pertumbuhan 8,44% menjadi Rp 10,11 triliun.
Sementara itu, alokasi beban pencadangan naik 3,45% menjadi Rp 1,64 triliun, dengan tingkat cost of credit berada di posisi 0,34%, masih di bawah batas perkiraan perseroan untuk tahun buku 2026 sebesar 0,4-0,5%.
Adapun indikator perolehan laba tetap berada dalam rentang sasaran perseroan.
Tingkat return on assets tercatat sebesar 3,84% dan return on equity mencapai 22,80%, dibandingkan dengan rentang sasaran masing-masing sebesar 3,5-3,7% dan 21,5-23,5%.