JAKARTA - Pemerintah menyatakan bahwa pengelolaan keuangan negara hingga saat ini dilakukan secara hati-hati serta terkendali agar defisit APBN tidak melewati batas tiga persen. Defisit anggaran tersebut dikendalikan sedemikian rupa supaya anggaran negara tetap sehat sekaligus mempunyai kelonggaran fiskal yang memadai dalam mengamankan perekonomian domestik dari efek buruk guncangan atau ketidakpastian ekonomi dunia.
"Mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi prima, ditopang oleh pengelolaan fiskal yang sangat sehat, prudent, dan terjaga, dengan defisit anggaran yang konsisten berada di bawah amanat UU sebesar 3%," katanya.
Lantaran manajemen keuangan dijalankan secara optimal, Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang memadai untuk menghadapi disrupsi pasokan serta fluktuasi harga energi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Tingkat ketahanan energi Indonesia di kancah internasional berada di angka 77 persen, sedikit di atas China yang mencatatkan 76 persen, namun masih di bawah Afrika Selatan yang menyentuh 79 persen.
"Ketangguhan ini tidak lepas dari bauran kebijakan fiskal yang sehat dan hati-hati," tutur menteri keuangan.
Selain itu, pemerintah terus mengakselerasi transformasi struktural lewat agenda hilirisasi serta industrialisasi, memajukan ekonomi masyarakat dan kawasan perdesaan, sekaligus mempertajam penurunan angka kemiskinan lewat skema bantuan sosial serta penyediaan lapangan kerja yang saling terpadu.
Langkah terintegrasi ini diharapkan mampu memaksimalkan target pembangunan nasional dan menstimulus roda ekonomi domestik. Melalui strategi tersebut, program pembangunan tidak cuma mengejar target angka pertumbuhan, melainkan juga diarahkan agar lebih inklusif, kuat, dan tersinkronisasi secara matang.