JAKARTA - Mayoritas indeks saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengguncang pasar global.
Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai berakhirnya gencatan senjata yang kemudian mendorong lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat melemah sebesar 1,09 persen, sementara S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,28 persen. Di sisi lain, Nasdaq Composite justru berhasil menguat sebesar 0,2 persen.
Pada sektor komoditas energi, minyak mentah Brent ditutup melonjak hingga 5,43 persen di level 78,19 dolar AS per barel. Sejalan dengan itu, minyak mentah WTI juga menguat sebesar 4,37 persen ke posisi 73,52 dolar AS per barel.
"Saya pikir semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi," kata Trump sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Suasana semakin memanas ketika sang presiden kembali mempertegas posisinya melalui ancaman serangan baru ke wilayah Teheran.
"Kami akan menghantam mereka dengan keras malam ini," ujar Trump.
Langkah keras tersebut diambil setelah pihak AS melancarkan rentetan serangan udara sebagai bentuk balasan atas insiden yang menimpa tiga kapal komersial di wilayah Selat Hormuz.
Merespons situasi ini, saham sektor energi seperti ConocoPhillips naik 2 persen, Chevron Corporation menguat 1 persen, dan Marathon Petroleum melesat hingga 5 persen.
Sebaliknya, saham sektor konsumen justru bertumbangan, di mana The Home Depot turun 2 persen, McDonald's merosot di atas 1 persen, dan Booking Holdings terkoreksi 4 persen.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Asia-Pasifik, di mana mayoritas bursa saham bergerak melemah akibat kecemasan investor terhadap risiko konflik di Timur Tengah.
Situasi pasar juga cenderung pasif dan berhati-hati karena pelaku pasar masih menunggu perilisan dokumen risalah rapat kebijakan moneter dari The Fed.
Bursa Jepang mencatat penurunan indeks Nikkei 225 sebesar 2,11 persen dan Topix 1,37 persen. Untuk Korea Selatan, indeks Kospi merosot 5,35 persen dan Kosdaq melemah sebanyak 5,56 persen.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 di Australia turun sebesar 0,21 persen. Berbeda dari tren penurunan tersebut, Hang Seng Hong Kong melonjak 3 persen dan Taiex Taiwan menguat 0,56 persen.
Fokus para pelaku pasar dunia saat ini tertuju penuh pada hasil risalah pertemuan Federal Open Market Committee bulan Juni yang akan segera dipublikasikan.
Dari dalam negeri, IHSG ditutup terkoreksi sebesar 1,89 persen pada perdagangan kemarin yang diiringi oleh aksi jual bersih investor asing senilai Rp674 miliar.
Adapun beberapa saham domestik yang paling banyak dilepas oleh investor asing meliputi MAPI, BBRI, BRMS, AMMN, serta CPIN.
“IHSG berpotensi melanjutkan koreksi ke 5850. Hati-hati jika break di bawah 5850, bisa koreksi ke 5650-5800. Diperkirakan Support IHSG: 5750-5850 dan Resist IHSG: 5900-5950,” sebut Fanny Suherman, CFP selaku Head of Retail Research BNI Sekuritas.
Untuk aktivitas perdagangan hari ini, terdapat beberapa saham potensial yang direkomendasikan seperti ELSA, AKRA, JPFA, ENRG, PGAS, dan juga ISAT.
Saham ELSA disarankan untuk dibeli saat melemah di rentang 600-615 dengan batas rugi di bawah 595 dan target keuntungan terdekat pada level 625-635.
Untuk AKRA, rekomendasi pembelian spekulatif berada di area 1310-1320 dengan batas rugi di bawah 1300 dan target profit terdekat pada 1340-1355.
Saham JPFA dapat dibeli saat melemah pada rentang harga 1980-2010 dengan batas rugi di bawah 1970 serta target terdekat di angka 2030-2070.
Emiten ENRG layak dicermati untuk dibeli saat melemah pada area 1135-1175 dengan batas cutloss di bawah 1130 dan target terdekat di kisaran 1200-1215.
Selanjutnya, saham PGAS direkomendasikan beli saat melemah di rentang 1410-1425 dengan batas pengaman di bawah 1400 dan target terdekat pada level 1435-1450.
Terakhir, saham ISAT bisa dibeli saat melemah di area 1820-1850 dengan batas pengaman di bawah 1800 serta target target terdekat di posisi 1885-1900.