JAKARTA - Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menyorot ‘pengakuan’ pemerintah, yang memproyeksikan defisit APBN 2026 akan melebar dari Rp689,1 triliun atau setara 2,68% PDB menjadi Rp734,3 triliun (2,85% PDB).
“Prakiraan realisasi (outlook) setahun disajikan berdasar realisasi semester satu dan prognosis semester dua, diakui bahwa defisit anggaran lebih akan lebar dari yang direncanakan,” kata Awalil.
Awalil menggarisbawahi bahwa untuk mengatasi defisit tersebut, diperlukan pembiayaan dengan nilai setara atau yang disebut sebagai pembiayaan anggaran.
Defisit dan pembiayaan anggaran pada APBN 2026 awalnya ditetapkan sebesar Rp689,15 triliun.
Jumlah itu terdiri dari pembiayaan utang (neto) yang bersifat penerimaan sebesar Rp832,21 triliun, serta pembiayaan non-utang yang bersifat pengeluaran sebesar Rp143,06 triliun.
Pemerintah memperkirakan pelebaran defisit menjadi Rp734,32 triliun akan menambah pembiayaan anggaran dengan nilai serupa.
Akibatnya, pembiayaan utang meningkat menjadi Rp868,12 triliun, sementara pembiayaan non-utang sedikit menurun menjadi Rp133,8 triliun.
“Cukup menarik dicermati, Pemerintah memprakirakan pembiayaan utang melalui SBN (neto) justru lebih sedikit dari rencana semula. Menjadi Rp736,57 triliun dari rencana Rp799,53 triliun. Namun, diimbangi peningkatan drastis dari pinjaman luar negeri (neto) yang mencapai Rp137,50 triliun dari rencana Rp39,21 triliun,” urai Awalil.
Awalil juga mencermati laporan pemerintah yang tidak menyajikan nilai pelunasan pokok utang yang akan dibayar selama setahun penuh pada 2026.
Nilai utang jatuh tempo tersebut diperkirakan berada di kisaran Rp900 triliun berdasarkan informasi realisasi tahun 2025.
“Dengan demikian, kebutuhan penarikan utang baru bruto akan mencapai kisaran Rp1.768 triliun,” tambah Awalil.
Posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 terakhir dilaporkan telah menyentuh angka Rp9.638 triliun.
Sementara itu, outlook untuk pembiayaan utang neto pada APBN 2026 tercatat sebesar Rp868 triliun.
Pelemahan kurs per 31 Desember 2026 atas 31 Desember 2025 juga diperkirakan ikut menambah posisi utang hingga hampir Rp100 triliun.
“Dengan demikian, posisi utang akhir 2026 akan mencapai Rp10.600 triliun,” hitung Awalil.