Sebagian Wilayah Asia Alami Pelemahan Nilai Tukar Terhadap Dolar

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:00:36 WIB
Ilustrasi mata uang asia (FOTO: NET)

JAKARTA - Mayoritas nilai tukar mata uang di Asia terpantau berada di zona merah akibat tingginya tekanan dolar Amerika Serikat di pasar global menjelang akhir pekan.

Merujuk pada data pasar, dari sepuluh mata uang utama regional, sebagian besar mengalami koreksi nilai, sebagian kecil menguat, dan sisanya tidak mengalami perubahan posisi.

Rupiah mencatatkan penurunan paling dalam pada perdagangan pagi ini dan mendekati level psikologis penting.

Pelemahan juga dialami oleh mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia, peso Filipina, yuan China, dolar Taiwan, serta dong Vietnam.

Sebaliknya, won Korea Selatan justru mencatatkan performa terbaik dan menjadi mata uang dengan penguatan paling tinggi di kawasan regional.

Kenaikan nilai tukar juga dicatatkan oleh dolar Singapura dan yen Jepang, sedangkan baht Thailand terpantau mendatar tanpa pergerakan berarti.

Di sisi lain, pergerakan indeks dolar Amerika Serikat sempat mencatatkan kenaikan tajam ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir sebelum mengalami koreksi tipis pada pagi ini.

Penguatan tersebut didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di jalur pelayaran energi internasional.

Selain faktor energi, tekanan inflasi global turut diperparah oleh kebijakan tarif baru yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat terhadap berbagai negara mitra dagang.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negeri Paman Sam membuat aset berdenominasi dolar kembali menarik di mata para investor global.

Saat ini, para pelaku pasar keuangan di berbagai belahan dunia tengah menunggu pertemuan bank sentral utama pekan depan guna memantau arah kebijakan suku bunga merespons kenaikan inflasi.

Terkini